Hidup bukan sekedar kata,itu mengilhami dan menginspirasi semua orang

Lomba Hari Penyandang Disabilitas Part 3

Tema : Aku dan Sahabat Disabilitasku.

“bu,kalau tidak bisa mengajar lebih baik pulang saja ke Bandung, bu harus tahu ya! Kami anak nakal, berandal, susah diatur, membangkang. Ibu pasti bakalan kapok ngajar disini” nada suara siswa itu seperti mengancam. kontan ini membuatku sedikit takut, bisa saja mereka nekat. tapi itu tidak membuatku gentar,  “menjadi Guru SLB adalah Pilihan hidupku ini bentuk pengabdian pada masyarakat” imbuhku

 

Memulai hari baru dengan Semangat Baru, Pagi yang cerah untuk Hari pertamaku di ibukota negara ini. Memberikan haru biru baru tersendiri dalam diri, melihat berjajaran anak jalanan yang mengamen, merusak fasilitas umum juga tindak kriminal lain membuat semakin miris bangsa ini tentang Pendidikan.

Kampusku merujuk ku untuk mengajar di salah satu Instansi milik Dinas Sosial di Jakarta, salah satu SLB E yang sangat jarang di Indonesia. Padahal perannya didunia pendidikan sangat nyata dan penting untuk ikut mencerdaskan anak bangsa, apalagi siswa-siswanya yang luar biasa ini bisa mendapatkan lebih besar kesempatan dibanding siswa berkebutuhan khusus yang lain.

Mentari bersinar begitu hangat menyinari bumi, aku bersama rekan-rekan pengajar berdiri didepan sekolah. Hari Senin, kami memulai upacara dengan semangat dan khidmat, semua peserta upacara bendera terfokus. Aku melihat disudut mesjid tepat dibelakang lapangan upacara beberapa siswa berlarian menelungkup bersembunyi, agar tidak diketahui guru. Tapi sayangnya seorang guru sudah paham gelagatnya lalu menegur beberapa siswa itu untuk berbaris bersama dengan siswa yang kurang atribut lalu diberi teguran dan dihukum dengan cara membersihkan WC Mesjid.

Di sekolah ini jadwal istirahat ada 2 kali, yaitu pukul 09.00WIB dan 11.00WIB. Dengan bantuan wejangan guru senior, kami diberikan beberapa instruksi untuk tetap sigap dan memahami situasi sekolah. Pertama, Jika siswa ada keperluan ingin masuk ke ruang guru, maka guru yang harus keluar ruangan untuk menemui. Kedua, jika guru masuk kelas hanya diperbolehkan membawa alat mata pelajaran saja, dilarang keras membawa tas, handphone serta berbagai acceoris lain yang bernilai jual tinggi. Ketiga, jika siswa ingin bertemu di asrama guru dilarang keras siswa masuk ke dalam asrama guru ini mengantisipasi siswa di luar jam pelajaran agar terus dikontrol. Keempat, Guru dilarang keras jika siswa meminta barang dan uang untuk pembiasaan diri agar tidak jadi peminta, nah meski aku tidak tega saat kami para guru pengajar PLP jajan pada saat jam istirahat, sebagian siswa nimbrung ikut jajan tapi hanya sedikit sekali yang jajan. Selebihnya mereka hanya melongo, mengiba-iba jajan ke pengajar baru itu minta sedikit belas kasihannya, soal ini aku tidak tega. Terkadang di misi-misi terselubung diluar jam sekolah memberi mereka jajan meski hanya sedikit saja, ya hanya sedikit meski hanya mengendap-ngendap saja seperti guru teroris. Kelima, peraturan ini dibuat aku sendiri untuk diri sendiri juga ‘dilarang keras memakai baju ketat atau membentuk tubuh’ pernah satu kejadian suatu hari masuk ke kelas, setiap pengajar baru diwajibkan memakai juga jas almamater tujuannya untuk membedakan antara guru tetap dan guru baru tersebut. Waktu itu Saat bell telah berbunyi tanda masuk kelas, aku membawa peralatan perang untuk mengajar dikelas. Berburu dengan waktu yang terkesan tergesa-gesa masuk kelas, sehingga jas almamater dibawa ke kelas karena udara sedang panas-panasnya membuat kulit serasa terbakar.

Aku pun masuk kelas, semua siswa melirikku tak henti-hentinya dan bersuit-suit. Awalnya kuanggap biasa sambil aku menulis tema pelajaran di papan tulis, tanpa sengaja aku melirik seorang murid yang menirukan lekuk badan seorang gadis mirip gitar spanyol dia tertawa cekikikan sambil terus menatapku. Waktu itu aku menggunakan baju guru untuk berdinas dengan warna hijau tua, aku sengaja memberikan aksen pinggul agak dilekukan saat pesan ke tukang jahit tapi tidak tahu bahwa responnya sedemikian hebohnya sehingga para siswa merasa super sekali dengan penampilanku hari itu. Lalu aku buru-buru memakai jas almamater agar tidak kentara jelas lekuk tubuhku itu, namun Rika seorang siswi yang sering frontal berkata “bu, kami ingin belajar asal jas almamaternya di buka saja bu! Beneran bu, janji aku mau belajar”di iringi tepuk sorak yang lain sambil menirukan lekuk tubuh Gitar Spanyol. Kontan saja aku panic, langsung kupakai jas almamater lagi dan mengingat pesan kelima ini begitu sangat urgent sehingga perlu diamanatkan lebih jauh pada generasiku selanjutnya yang tentu saja mengajar di sekolah ini tahun depan.

Sesama pengajar yang kena juga cerocosan gossip siswa lain adalah ibu Dini, ibu Dini ini karena berperawakan gemuk dan berisi pada saat itu sehingga siswa-siswa lebih senang melihatnya, terkadang kerudungnya dibuka saat sesi diluar jam mengajar. Kami biasanya selepas pulang sekolah, memulai banyak kegiatan ekstrakurikuler dimulai jam 14.00-16.00wib berakhir di sore hari, biasanya saat mulai matahari terbenam menggelayut dan sudah tidak memaparkan sinar yang menyengat, perkebunan di sekitar sekolah cukup luas untuk beberapa tumbak, kami isi ditiap minggu selanjutnya untuk melihat pertumbuhan pohon yang kami tanam. Biasanya saat pelajaran Biologi, siswa lebih senang belajar diluar dengan alam, kebun-kebun yang terhampar luas hijau permai menyejukan hati, kolam ikan yang membentuk letter U yang ditengahnya ada pondokan saung untuk berteduh melepas penat saat belajar atau biasanya tempat favorit anak-anak bermain sambil memancing, memanjat pohon yang beraneka ragam buah. Sore itu, bersama dengan siswa lain membuat benih dari cabai,caosin,singkong,berbagai jenis tumbuhan darat. Kami biasanya sambil menikmati senja sambil menanam benih yang minggu lalu disemai, lalu diberikan patok tanah untuk pembibitan benih,jadi ada siswa yang bertugas memacul, menentukan batas patok benih dengan cara dilobangi kemudian benih tersebut ditanam. Kadangkala kami keasyikan tidak tahu waktu, sehingga guru pembimbing sering mengingatkan waktu habis. Intinya semua peraturan itu kami harus patuhi untuk kebaikan kami juga agar tidak ada kejadian seperti tahun kemarin. Kami bingung, apa yang terjadi tahun kemarin?’ semua diam membisu.

Jam istirahat pertama bell berbunyi, siswa-siswa berhamburan keluar. Para siswa masuk ke ruangan guru, meminjam bola basket dan alat olahraga lain sambil menyapa guru baru dan sun tangan. Beberapa siswa melihatku lalu sun tangan juga dengan memegang agak lama, sambil mata jelalatan kesana kemari. Lalu ‘hush…’ kutegor siswa itu, seorang siswa yang berwajah innocent dan berwajah lugu lalu dia pun tersenyum memalingkan muka dan pergi dengan bola basketnya. Masih terkesan baik, siswanya normal saja aku pikir ada yang salahkah kenapa mereka masuk SLB ini untuk rehabilitasi?’ pertanyaan belum menguak, masih misteri tanda tanya.

Beberapa menit sebelum bell berbunyi, para guru dikagetkan dengan kejadian mencengangkan seorang siswa pingsan di WC mesjid setelah bajunya dipereteli oleh teman-temannya. Pelakunya adalah siswa yang masih kelas 6 SD dan 1 SMP, mereka bekerjasama membuka paksa baju korban, beberapa guru yang lain terkesan santai dan cuek saja melihat kejadian itu. Bayangkan, di hari pertama mengajar aku sudah mendapatkan kejadian menegangkan tapi guru disini terkesan santai saja. Seorang guru dari kesiswaan bertindak lalu mengumpulkan pelakunya itu sambil membopong korban ke ruang tamu depan, suasana mulai ricuh siswa saling menyalahkan. Dengan nada keras, sang guru seperti polisi yang menginterogasi kejahatan bertanya detail kejadian perkara, bibit permasalahannya dilakukan oleh teman sebayanya. Siswa yang lain disuruh pergi masuk kelas saat bell sudah berbunyi, dibantu guru lain termasuk aku membantu menyadarkan siswa yang pingsan dengan memberikan minyak kayu putih yang dioleskan ke hidung, memeriksa pakaiannya yang telah terkoyak dan sakunya sobek, rambutnya acak-acakan, celana SD nya yang berwarna merah ikut kotor dengan tanah, dia memakai ikat pinggang yang telah lepas dan resleting yang terlepas juga.

Suasana genting berkas kejadian perkara belum selesai,  para pelaku masih diinterogasi dan belum mengaku juga. Seorang siswa yang berwajah chinese dan innocent juga berotak cerdas rangking pertama dikelas ini didesak untuk mengaku, terang saja tidak mengaku ada peribahasa “maling mana mau ngaku” lalu guru itu mendaratkan tangannya di pipi siswa yang putih dan mulai merah ranum itu dan dipaksa mengaku dengan nada lebih tinggi. Jujur, aku tidak tega sangat tidak tega melihat itu namun aku hanya bisa melihat kejadian itu tanpa berkomentar, tidak bisa melarang hanya bisa menilai ‘inikah pendidikan seharusnya? Sama seperti para pengajar muda dipelosok negeri ini membayangkan saat pertama kali mereka mengajar sang murid dipelosok sana justru dengan senang hati memberikan alat pemukul pada gurunya sambil berkomentar ‘bu ini pemukulnya, kalau kami nakal pukul saja dengan itu’’. Hatiku teriris-iris melihat kejadian itu lalu pergi mempersiapkan bahan ajar untuk masuk kelas sambil menitikan air mata sendu tapi aku harus menguasai diriku lagi untuk ceria, aku tak ingin mereka tahu aku menangis meski tetap saja hati tak bisa dibohongi, namun harus tetap menjadi guru professional kebanggaan muridku.

Suasana baru menjadi guru SLB E, dikelas 1 SMP. Mereka menunggu penasaran guru baru yang akan datang masuk kelas, lalu melihatku sambil tersenyum. Seorang KM menyiapkan kelas untuk berdoa dan mengucapkan salam pada gurunya. Pelajaran dimulai semua berjalan lancar, mereka sedang mengerjakan soal sambil nyeletuk begini “bu, kalau tidak bisa mengajar lebih baik pulang saja ke Bandung, bu harus tahu ya! Kami anak nakal, berandal, susah diatur, membangkang. Ibu pasti bakalan kapok ngajar disini” nada suara siswa itu seperti mengancam, lalu aku berkata “hmm, ibu senang mengajar kalian ini salah satu impian ibu mengajar kalian, semua berproses semoga kalian juga bisa lebih baik” dengan nada bijak kuutarakan maksudku,meski hatipun sebenernya ikut ngenes juga ini bahasa anak-anak yang super sekali.

Setelah aku pahami sambil sering konsultasi dengan tim rehabilitasi sosial, seorang guru disini juga bertindak sebagai pekerja sosial. Biasanya siswa disini diberikan sesi curhat tiap hari sabtu dengan pekerja sosial masing-masing sesuai jam. Aku kemudian menganalisis kasus yang dilimpahkan dari kepolisian. Oke, aku menganalisis dikelas 1 SMP. Siswa dikelas itu berjumlah 12 orang dengan status kejahatan berbeda-beda. Siswa yang mengajak perang mulut itu terlibat kasus kejahatan pencurian, ada siswa afdil yang rangking pertama dikelas ini berperawakan tinggi,kulit putih, ganteng dan sangat sopan tapi pecandu narkoba, ada lagi siswa lain bernama rahmat, daerah perkebunan teh yang terkesan baik, sering salam sun tangan dengan lembut dan agak lama ‘mungkin dia sengaja memegangku seperti itu’, agamis dan sering bertanya disela-sela waktu tentang agama namun ternyata seorang seksholic,kasusnya pernah masuk bui karena telah memperkosa adik kelasnya waktu dia SD kelas 6 meski sebelumnya coba-coba mempereteli/memperkosa domba piaraan milik tuannya sebanyak 10 kali, rahmat itu korban sodomi teman-teman sepermainan anak jalanan di Cileungsi, Bogor sana. Ada juga siswa tunagrahita ringan, sebut saja namanya Bimo. Bimo ini adalah siswa yang paling baik dikelas ini diantara teman-temannya yang beringas sering menindasnya dan korban bullying, aku sempat melihat dia saat jadi korban bullying, dipaksa menulis pekerjaan Eric yang premannya anak jalanan, diambil paksa alat tulis sekolahnya itu ketika  Eric mengaku hanya meminjam ballpointnya sehingga terpaksa Bimo menulis dengan Pensil setengah potong, kecil sekali.

Kutemukan seorang gadis yang frontal, mempunyai rambut bergelombang, kulitnya coklat,wajahnya dipenuhi bekas luka-luka masa lalu seperti kena cacar atau bekas cakaran, orangnya keras tapi bisa sekali bersilat lidah. Rika namanya, perilakunya terkadang membuat habis kesabaran karena sering sekali mengabaikan tugas, dia sama sekali tidak takut aku. Setelah diselidiki ternyata Rika adalah anak yang dibuang ibunya, entahlah apakah karena dia anak haram. Orangtuanya tidak jelas, dia sejak bayi tinggal disini diurus oleh kepala sekolah sekarang sehingga merasa seperti anak yang punya kuasa atas sekolah ini. Tapi lambat laun, Rika mulai mempertanyakan orang tua aslinya dan setelah penyelidikan polisi berlanjut akhirnya dia bisa bertemu dengan ibu kandungnya sendiri namun Rika tidak mau bersama Ibunya yang orang Banten-Jawa Barat itu. Rika tetap betah dengan ibu angkatnya yang juga menjadi kepala sekolah di SLB E.

Semuanya bermakna kejadian semasa menjadi guru yang super penuh kesabaran, aku masih ingat semua celotehan sore mereka di senja hari, mereka merindukan sosok yang ingin didengarkan lebih dari sekedar pekerja sosial atau orang tua angkat di asrama mereka, tapi mereka perlu diayomi, dididik dengan cinta kasih dan ketulusan. Seorang guru SLB E (Tunalaras) ini harus memiliki fungsi yang multitalent dalam pendidikan. Alhasil,hari ini aku merindukan sosok-sosok mereka itu sekarang, “Banggakan ibu gurumu ini ya Nak dengan prestasimu yang membumi, teruslah semangat kejar impianmu.

                           Celotehan kecil, dari gurumu tercinta

 

Karima Nurfitria

Follow myTwetter: @karimaberkarya

@sahabat_difabel

Sahabat disabilitas kita, Tunadaksa di SLB Tunaganda Jakarta

Sahabat disabilitas kita, Tunadaksa di SLB Tunaganda Jakarta

 ini tulisan didedikasikan dalam mengikuti lomba cerpen ‘aku dan sahabat disabelku’ , semoga bermanfaat ya! komentarnya ditunggu sekali. trims 

Biodata

Nama                              : Karima Nurfitria

PIN                                   : 31672F2D

Email                               : khara.cinta@yahoo.com  

FB                                     : khara_cinta@yahoo.com 

Moto hidup                   : keep your spirit and always smile

Comments on: "Paradigma Pendidikan SLB E (Realitas Kehidupan)" (3)

  1. Bantu komentar ya ^_^ mau jadi tradding topic nih.. hehe

  2. Luar biasa!
    semangat itu perlu dipertahankan…
    Mereka adalah kaum yang perlu diperjuangkan untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: