Hidup bukan sekedar kata,itu mengilhami dan menginspirasi semua orang

Jika melihat pendidikan di berbagai belahan dunia pasti akan berbeda,apalagi di Indonesia yg pasti berbeda dg amerika jepang, berbagai negara maju yg punya sistem berbeda. saya memberikan aplouse ke negara yg punya sistem pendidikan yg baik. saya banyak baca artikel,film dan cerita rekan-rekan yg sedang berselancar di belahan dunia. banyak yg saya simpulkan satuhalnya karena terfokus di pendidikan Indonesia yg maaf *masih semrawut! saya berharap tulisan ini bisa menggugah banyak orang untuk lebih paham pendidikan Indonesia mau dibawa kemana”?

waktu saya PLP di SLB E di sebuah kota besar, sistem pendidikan sesuai dg diknas. tapi saya terkaget-kaget Shock ketika pada awal mengajar, seorang guru menampar anakdidiknya karena suatu kesalahan. memang iya, cara menangani anak berbeda-beda. bahkan kalau kata saya kekerasan pun bisa dilakukan jika memang sudah kelewatan dan cara memukul pun harus sesuai dengan kaidah dan norma islam dalam hal ini nilai kemanusiaan. tak perlulah menampar murid terus-terusan hingga pipi putihnya merah, cukup pukul kaki atau tangannya jika salah.
Memang yang ditangani ini bukan anak normal, mereka adalah anak-anak limpahan LAPAS ataupun kasus-kasus anak yg tidak dilimpahkan ke meja hijau. jadi benar-benar untuk rehabilitasi sosial dan ini bener-bener luar biasa. menjadi guru di sekolah tersebut harus ekstra sabar.
saya kemudian mengejawantahkan dengan pendidikan di Indonesia yg dipelosok-pelosok negeri, yang tak terpantau media dan terus ingin melakukan perubahan pendidikan dengan cara yang salah. memakai berbagai macam alat-alat ampuh ngajar misalnya sapu lidi,tongkat, penggaris besi ataupun benda-benda disekitar yang digunakan sebagai alat pembasmi siwa-siswa nakal. tapi haruskah?
Pada akhir tahun 2011 sebuah talkshow digelar, saat itu Pak Anies Baswedan bercerita tentang kondisi real saat seorang guru didikannya mengajar pertama kali di SDN yg kumuh di pulau sulawesi. saat pertama kali masuk ke kelas, dengan penuh antusiasnya murid memperhatikan gurunya. namun ketika sang guru melihat berbagai macam alat untuk menghukum tersebut! sang guru bertanya pada murid “ini buat apa?” dan sang muridpun menjawab” ini buat memukul kami pak, ketika kami nakal! serunya” dan sang guru pun kaget kemudian melempar alat-alat tersebut keluar kelas. lalu kelaspun hening karena muridnya kaget.

Satu hal yang bisa kita angkat adalah sistem pendidikan yang justru makin rusak, dengan kualitas siswa rendah. terbayanglah ketika saya kuliahpun seperti itu, bagi saya dosen lulusan luar negri lebih bagus memahami mahasiswanya karena mungkin beberapa hal, pendidikan pola fikir mereka berkembang secara baik. mereka mungkin ingin memberikan banyak perubahan di sistem tapi sulit, karena pola berfikir orang-orang Indonesia sudah menahun. jikalau paham dengan situasi Indonesia lebih mendalam, berniat tulus membangun bangsa. baiknya seorang dosen atau pendidik memahami secara betul, apa saja yg harus di ubah.

ketika saya bercerita pada seorang rekan saya di mesir, tentang sistem pendidikan disana seperti apa. dia bilang kampusnya begitu killer dan sulit saat sidang. namun sistem belajarnya lebih berbobot dan sistematis. yah setidaknya punya nilai plus karena Al Azhar salah satu universitas tertua di dunia. jadi saya banggalah dengan lulusannya yag keren.

kalau sistem pendidikan di Amerika, saat masuk sekolah yang diinginkan misalnya. setiap calon siswa diperbolehkan daftar ke sekolah tersebut dan diberikan no.urut dan nama, setelah itu no.urut tersebut dikocok dan diambil dari jumlah siswa yang dibutuhkan disekolah tersebut. dan itpun disaksikan oleh orang tua dan calon siswa tersebut ketika no urutnya disebut berarti lolos. jadi tak perlu mengikuti serangkaian Tes yang sulit ketika ingin masuk sekolah tersebut, semua karena peruntungan! dan sekolah tidak menilai dari anak siapa calon siswa tersebut, namun menjungjung kejujuran, transparansi dan tegas!

sampai detik ini, saya masih aplouse ke sistem pendidikan jepang yang menurut saya meskipun masih benua Asia tapi nnegara ini mampu menghasilkan para profesional dibidangnya. karena bentuk penghargaan yang tinggi mulai pres school sampai perguruan tinggi! meskipun kerja mereka berat namun mereka banyak apresiasi pujian bukan dengan kemarahan/hukuman jika mereka salah. saya merasa ingin banyak belajar di negeri sakura ini, semoga impian tercapai. amien.
di bawah ini ada atrikel yang saya kutip, menarik sekali untuk dibaca kemudian jadi bahan perenungan.
good luck ya ^_^

Encouragement – Prof. Rhenald Kasali, Ph.D
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.
Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakanakan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Melahirkan Kehebatan

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.(*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/338297/

Comments on: "Encouragement : Belajar sistem pendidikan di belahan dunia" (2)

  1. This article is in fact a good one it helps new the web
    viewers, who are wishing in favor of blogging.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: