Hidup bukan sekedar kata,itu mengilhami dan menginspirasi semua orang

5900_1091524617628_1511894073_30318950_4910382_s

Pembelajaran sejarah dewasa ini lebih berorientasi kepada penyampaian pengetahuan (transfer of knowledge) dari guru kepada peserta didik. Konsekwensinya, guru berperan sebagai pusat kegiatan belajar, sementara siswa sebagai peserta pasif yang hanya menerima materi.

Dalam posisinya sebagai penyampai materi, guru kurang peka terhadap perkembangan masyarakat sehingga materi pembelajaran seringkali lepas dari konteks dan situasi nyata dalam lingkungan sosial siswa. Hal ini terjadi karena pembelajaran sejarah di sekolah, baik sebagai sebuah disiplin ilmu maupun sebagai bagian dari rumpun Ilmu Pengetahuan Sosial lebih menekankan pada pewarisan nilai (perenialisme) dan pendekatan disipliner.

Pembelajaran sejarah yang lebih menekankan kepada aspek kognitif ini mengakibatkan kesenjangan antara peristiwa masa lalu dengan situasi masa kini. Dengan demikian, sejarah hanya diletakan dalam konteks jamannya, tidak mampu melintasi waktu, ruang geografis serta kondisi sosial budaya

Pendekatan konvensional ini diikuti penerapannya dalam pembelajaran di kelas yang bersifat intruksional. Akhirnya, keberhasilan belajar siswa diukur atau dievaluasi secara kuantitatif untuk mengetahui aspek kognitif atau pengetahuan yang telah diserap; bukan pada aktifitas dalam proses pembalajaran, sikap dan kepribadiannya. Pendekatan ini menyebabkan peserta didik tidak memiliki kesempatan untuk memaknai materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari atau masalah-masalah sosial yang dihadapi.

Padahal pembelajaran sejarah juga diharapkan dapat membangun persepsi dan cara pandang siswa mengenai materi yang dipelajari, mengembangkan masalah baru dan membangun konsep-konsep baru dengan menggunakan evaluasi yang dilakukan pada saat KBM berlangsung (Nana Supriatna, . 2007:17)

Salah satu metode pembelajaran sejarah yang dipandang dapat mencapai tujuan di atas, adalah sebuah metode yang menggunakan model berpikir sinektik yang dikenalkan oleh William J.J. Gordon (M.D. Dahlan [Eds.], 1990: 87)

Berpikir sinektik adalah proses menemukan pertalian dari segala hal yang tidak diketahui sebelumnya atau bahkan bertentangan. Ia meliputi berbagai upaya mengkoordinasikan segala sesuatu ke dalam suatu struktur baru agar ditemukan hubungan antara satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain berpikir sinektik adalah proses identifikasi segala hal yang tidak diketahui sebelumnya untuk dicari jalan keluarnya, dibuat dugaan-dugaan atau hipotesa (www.lovinlearning.org/heroes/Synectics/What_is_Synectics.htm).

Dalam tataran praktis dan aplikatif, aktifitas sinektik bersifat metaporik dengan menemukan analogi-analogi yang dengan sendirinya kreatifitas menjadi suatu yang disadari. Metapora-metapora membentuk hubungan persamaan serta membedakan obyek atau ide yang satu dengan yang lainnya.

Model pembelajaran seperti ini mengajak siswa untuk menjiwai dan menghayati sejumlah pengetahuan ke dalam ranah afeksi  sehingga terjadi proses persepsi dan penghayatan yang mendorong siswa memaknai setiap pengalaman pembelajaran sejarah.

M.D. Dahlan dalam Model-Model Mengajar (Eds.1990: 90) menyebutkan bahwa aktifitas metaporik yang merupakan ciri inheren dari teori sinektik ini akan membantu peserta didik untuk dapat menghubungkan ide-ide dari hal-hal yang telah dikenalnya menuju ke hal-hal yang baru atau dari suatu perspektif baru ke hal yang dikenal. Strategi sinektik menurutnya, mempergunakan aktifitas metaporik yang terencana, dan memberikan struktur langsung yang mana individu bebas mengembangkan imajinasi, afeksi dan pemahaman mereka ke dalam pengalaman sehari-hari

Sebagai gambaran aplikatif dalam KBM dapat dikemukakan fakta historis berupa penderitaan masa penjajahan dengan analogi seekor kucing yang dikurung, disiksa dan tidak diberi makan oleh pemiliknya. Pertama, guru mendeskripsikan penderitaan nenek moyang di masa penjajahan. Ke-dua, siswa disuruh untuk mengidentifikasi dan membayangkan hal apa saja yang dialami binatang tersebut (analogi langsung). Dalam hal ini guru dapat menilai hasil identifikasi siswa; mana yang relevan dan yang tidak relevan. Guru juga dapat menambahkannya bila dipandang perlu.

Ke-tiga, agar siswa dapat lebih berempati, guru dapat menyuruh siswa menjadi analog personal. Guru dapat menyuruh, misalkan: “Anggaplah kalian sebagai seekor kucing tersebut, apa yang dialami dan dirasakan”! Selanjutnya, murid berimajinasi dan mengidentifikasi hal apa saja yang mungkin dialami dan diraskan.

Ke-empat, guru juga dapat menyuruh siswa untuk mengidentifikasi objek yang menjadi kebalikan dari masa penjajahan, misal masa kemerdekaan (analogi pertentangan). Hal ini dimaksudkan agar lebih menekankan dan melibatkan aspek emosional siswa.

Dalam contoh di atas peserta didik dituntut untuk memberikan batasan karakteristiknya dan disempurnakannya dalam sebuah konsep.  Dalam contoh ini, mereka diharapkan menemukan konsep penjajahan dan menginternalisirnya ke dalam ranah afeksinya melalui analogi yang relatif mudah diketahui, seperti contoh seekor kucing yang disiksa tersebut. Agar  lebih membangkitkan emosional peserta didik, seperti dalam contoh di atas, guru menyuruh para siswanya “menjadi” analog yang berperan langsung (analogi personal).

Contoh di atas dapat menstimulus peserta didik untuk menemukan sisi persamaan dan perbedaannya. Mereka dituntut untuk bersifat analitis dan melakukan konvergensi yang mendorong energi kreatif untuk membangkitkan aspek afeksi, merasa lebih bebas, lebih berperan serta saling memahami satu dengan yang lainnya.

Selanjutnya dari pengalaman sinektis di atas, siswa akan memiliki integritas, berjiwa sosal tinggi, bertanggung-jawab, kreatif, mandiri dan memiliki kemampuan untuk memandang segala persoalan secara komprehensif sebagai modal awal dalam memecahkan setiap persoalan.

Namun penerapan metode ini dalam proses KBM di Indonesia masih terhitung langka. Hal ini bukan hanya karena kurangnya sosialisasi tetapi juga menyangkut berbagai faktor, seperti beban guru untuk mengejar target kurikulum dan guru yang selalu menjadi pusat kegiatan belajar. Guru merasa dirinya hanya merupakan penyampai bahan pelajaran dan bukan sebagai fasilitator yang membuat siswa belajar.

Pandangan ini juga diperburuk dengan beredarnya buku-buku sumber sejarah yang berusaha menjadi buku pegangan yang paling lengkap dengan memuat sebanyak mungkin fakta-fakta sejarah. Guru seringkali memilih buku sumber pegangan siswa yang relevan dengan dokumen kurikulum yang dikeluarkan pemerintah. Mereka menganggap bahwa semua uraian materi tersebut harus disampaikan kepada siswanya hingga selesai melalui KBM di kelas.

Dengan demikian, kurangnya sosialisasi metode sinektik ini juga disebabkan oleh lingkungan dan tuntutan kurikulum serta sistem yang selama ini dianut oleh dunia pendidikan.

Berangkat dari karakteristik teori sinektik di atas, penulis menawarkannya sebagai salah satu metode  pembelajaran sejarah dengan harapan dapat meningkatrkan kualitas pengajaran. Lebih jauhnya, siswa dapat dipandang sebagai individu yang mandiri, memiliki potensi belajar,  pengembang ilmu dan kemampuan memecahkan suatu permasalahan (problem solving).

Manfaat lain dari metode sinektik adalah dapat membentuk kreatifitas individu dan kelompok. Pengalaman sinektik dapat menumbuhkan jiwa sosial para siswa. Mereka belajar bersama dengan melihat bagaimana rekan-rekannya bereaksi kepada suatu ide atau masalah. Hal ini akan menyebabkan setaiap individu berpartsipasi dalam suasana belajar yang menyenangkan.

tangan warna

Comments on: "pembelajaran sejarah dengan teori Sinektik" (3)

  1. Bagus sekali artikelnya. Tepat sasaran untuk kondisi saat ini. Walaupun menurut saya pribadi seharusnya cara berpikir sinektik itu dilakukan oleh semua kalangan (baik ortu maupun guru, bukan cuma siswa).
    Tapi kalau para pengamat sejarah (termasuk guru pengajar) sejarah sendiri tidak bercermin, kesadaran akan sulit diperoleh. Salam kenal dari http://www.cerminsejarah.wordpress.com
    Terimakasih.

    • sip.. salah satu penelitian skripsi buat pembelajaran anak tunanetra di sekolah, mungkin bisa jadi di terapkan di SLB.. ehm, keren juga !! thanks for komentarnya

  2. laeli rahmawati said:

    asalamualaikum
    kenalin mbak, namaQ leli… mo tanya2 masalah metode sinektik lebih lanjut, boleh ga???klu boleh tolong add aq d FB dengan nama laeli rahmawati.
    makasih… salam kenal🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: