Hidup bukan sekedar kata,itu mengilhami dan menginspirasi semua orang

FACT CHILDREN

WITH LEARNING DISABILITY

The discussion about the fact learning dissability is necessary because in everyday life that individuals often use the term wrongly. Many people, including most of the teachers, can not distinguish between tunagrahita with learning difficulties. Without learning difficulties to understand the fact, be difficult to determine the number of children also learn berkesulitan so in turn is also difficult to make policy for their education. With learning difficulties to understand the fact, the number and classification of them can be determined and strategies for the effective and efficient can be searched. The cause of learning difficulties also need to be understood as the knowledge can be preventive efforts as well as curative. Therefore, prospective teachers for children need to learn berkesulitan first fact to understand the difficulty of learning before doing a more in depth about their education.

DEFINITION OF

LEARNING DISABILITY

The National Joint Committee for Learning Disabilities ( NJCLD) mengemukakan bahwa kesulitan belajar adalah istilah umum yang digunakan untuk kelompok gangguan yang heteroge  yang berupa kesulitan nyata dalam menggunakan pendengaran, percakapan, membaca, menulis, berfikir, dan kemampuan matematika. Gangguan ini terdapat di dalam diri seseorang dan dianggap berkaitan dengan sifungsi system syaraf pusat. Sekalipun kesulitan belajar mungkin berdampingan dengan kondisi-kondisi hambatan lain (misalnya perbedan budaya, kekurangan pengajaran, factor penyabab psikogen), kesulitan belajar bukan akibat langsung dari kondisi atau pengaruh tersebut. Belajarnya lebih rendah dari kemampuan kecerdasannya, terutama dalam membaca, menulis, berhitung dan lain sebagainya.

Kesulitan belajar adalah salah satu masalah yang terjadi pada diri seseorang yakni kabutuhan khusus yang bersifat temporer ( berubah ) dan tidak terjadi pada Anak Luar Biasa saja tapi dapat terjadi pada setiap diri individu .

Anak berkesulitan belajar (LD) adalah individu yang mengalami gangguan dalam satu atau lebih proses psikologis dasar, disfungsi sistem syarat pusat, atau gangguan neurologis yang dimanifestasikan dalam kegagalan-kegagalan yang nyata dalam pemahaman dan penggunaan pendengaran, berbicara, membaca, mengeja, berpikir, menulis, berhitung, atau keterampilan sosial. Kesulitan tersebut bukan bersumber pada sebab-sebab keterbelakangan mental, gangguan emosi, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, atau karena kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi, tetapi dapat muncul secara bersamaan.

Kesulitan belajar merupakan terjemahan dari istilah bahasa Inggris Learning Disability. Terjemahan tersebut sesungguhnya kurang tepat karena karena Learning artinya belajar dan Disability artinya ketidakmampuan; sehingga terjemahan yang seharusnya adalah ketidak mampuan belajar. Istilah kesulitan belajar digunakan dalam buku ini karena dirasakan lebih optimistik.

Hallahan, kaufman mengemukakan kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencangkup pemahaman dan penggunaan bahasa ujuran atau tulisan . gangguan tersebut mungkin menampakan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau berhitung. Batasan tersebut mencangkup kondisi-kondisi seperti gangguan perseptual, luka pada otak, disleksia, dan afasia perkembangan. Batasan tersebut tidak mencangkup anak-anak yang tidak memiliki problema belajar yang penyebab utamanya berasal dari adanya hambatan dalam penglihatan, pendengaran, atau motorik, hambatan karena tunagrahita, karena gangguan emosional, atau karena kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi.

Lovitt ( 1989: 7 ) mengemukakan kesulitan belajar khusus adalah suatu kondisi kronis yang diduga bersumber dari neurologis yang secara selektif mengganggu perkembangan, integrasi, dan / atau kemampuan verbal dan / atau nonverbal.

Kesulitan belajar khusus tampil sebagai suatu kondisi ketidakmampuan yang nyata pada orang-orang yang memiliki intelegensi rata-rata superior yang memiliki sistem sensoris yang cukup, dan kesempatan belajar cukup pula. Berbagai kondisi tersebut berfariasi dalam perwujudan dan derajatnya.

Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap harga diri, pendidikan, pekerjaan, sosialisasi, dan / atau aktifitas kehidupan sehari-hari sepanjang kehidupan.

PREVALENSI

Prevalensi anak berkesulitan belajar terkait erat dengan definisi yang digunakan karena alat identifikasi dan assesment untuk menentukan prevalensi didasarkan atas defini9si tertentu. Oleh karena itu tidak mengherankan jika tiap peneliti mengemukakan data prevalensi yang berbeda dari peneliti lainnya. Ada yanmg mengatakan bahwa prevalensi anak usia sekolah yang berkesulitan belajar membentuk suatu rentangan dari 1 % hingga 30 % ( Lerner, 1981 : 15; Halahan, Kouffman Lloyd, 1985: 15 ) dan ada pula yang mengatakan bahwa rentangannya adalah 2 % hingga 30 % ( Lovitt, 1989 : 17 ). Hasil penelitian terhadap 3.215 murid kelas satu hingga kelas enam SD di DKI Jakarta menunjukan bahwa terdapat 16,52 % yang oleh gurunya dinyatakan sebagai anak berkesulitan belajar ( Mulyono Abdurrahman dan Nafsiah Ibrahim, 1994 ). Menurut Kazuhiko dalam Takeshi Fuzi Syima et al; (1992:26 ) estimasi prevalensi anak berkesulitan belajar adalah 1 % hingga 4 % dengan perbandingan anak laki-laki dan anak perempuan antara 4 berbanding 1 hingga 7 berbanding 1. program PLB pada pendidikan Amerika Serikat menggunakan estimasi pada mulanya 3 %, sesudah itu 1 % hingga 3 %, dan terakhir lebih dari 3 % ( Halahan, Kouffman Lloyd, 1985: 15 ).

Menurut Lerner ( 1985: 17 ), 40 % dari anak-anak luar biasa yang memperoleh layanan PLB di Amerika Serikat ialah anak-anak yang tergolong anak-anak berkesulitan belajar. Perbandingan proporsi mereka anatara anak laki-laki dengan anak perempuan adalah 72 berbanding 28 ( Lerner, 1985: 19 ). Dari data tersebut menunjukan bahwa kesulitan belajar lebih banyak terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan.

Menurut Hallahan et al; jumlah anak berkesulitan belajar meningkat secara dramatiks; dan sebaliknya, jumlah anak tunagrahita menurun tajam. Keadaan semacam itu terjadi pada tahun 1987an yaitu kriteria adaptabilitas sosial digunakan untuk menentukan anak tunagrahita. Dengan digunakannya kriteria adptabilitas sosial disamping taraf intelegensi untuk mengidentifikasi anak tunagrahita, maka anak-anak yang pada mulanya dianggap sebagai tunagrahita ternyata termasuk anak berkesulitan belajar. Menurut Lerner ( 1985: 18 ), ada lima alasan yang menyebabkan kenaikan anak berkesulitan belajar, yaitu:

  1. Peningkatan prosedur identifikasi dan assenment anak berkesulitan belajar
  2. Persyaratan yang longgar untuk menentukan anak berkesulitan belajar
  3. Orang tua lebih menyukaiklasifikasi anak berkesulitan belajar daripada klasifikasi lain
  4. Penurunan biaya PLB yang segregatif dan peningkatan biaya program PLB yang integratif
  5. Adanya evaluasi ulang terhadap anak-anak yang pada mulanya dinyatakan sebagai anak tunagrahita.

Beberapa data di luar maupun dalam negeri, menunjukkan terdapat prevalensi yang cukup besar (5-20%) mengenai siswa-siswa sekolah dasar yang mengalami kesulitan belajar. Mereka memiliki kecerdasan umum yang tergolong rata-rata atau di atas rata-rata namun tidak tertampilkan dalam prestasi belajar di sekolah. Prevalensi tersebut menandakan perlunya identifikasi dan penance dan bagi siswa berkesulitan belajar agar potensi dasar mereka dapat dioptimalkan.

Identifikasi risiko kesulitan belajar sejak dini dapat dilakukan sebelum memasuki sekolah dasar, yaitu pada tingkat prasekolah. Identifikasi yang dapat dilakukan adalah dengan melihat tanda-tanda awal dari kesulitan belajar seperti perkembangan motorik, persepsi, bahasa atau atensi (Lerner, 2000). Sangat disayangkan, umumnya kesulitan belajar baru terdeteksi ketika siswa menginjak bangku sekolah dasar.

Permasalahanpermasalahan belajar yang mereka alami pun seringkali telah bercampur dengan permasalahan perilaku dan keterampilan sosial. Masih terdapat perbedaan pendapat di antara para ahli mengenai aspek-aspek yang memberikan kontribusi terhadap risiko kesulitan belajar. Sebagian ahli ada yang mempercayai hubungan antara aspek motorik dan persepsi terhadap risiko kesulitan belajar (Lewandowski, dalam Blumsack dick, 1997; Trout, 1996).

Sebagian ahli yang lain menolak peranan aspek motorik dan persepsi, dan mengutamakan peranan aspek bahasa pada risiko kesulitan belajar (Scarborough, 1990; Vellutino dkk, 2004). Ada pula yang berpendapat bahwa risiko kesulitan belajar berhubungan dengan ketiga aspek tersebut, di mana perkembangan anak-anak yang mengalami risiko kesulitan belajar pada ketiga aspek perkembangan motorik, persepsi dan bahasa terlambat bila dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Penelitian ini bertajuan untuk mengetahui kontribusi aspek motorik, persepsi dan bahasa secara bersamasama terhadap risiko kesulitan belajar.Dari hasil yang diperoleh ingin diketahui pula aspek perkembangan apakah yang memiliki kontribusi paling besar terhadap risiko kesulitan belajar di tingkat prasekolah.

Penelitian dilakukan pada 76 orang siswa TK Pembangunan Jaya dan TK Tumbur Ria, yang berusia antara tiga hingga tujuh tahun. Mereka duduk di bangku kelompok bermain hingga TK B. Para siswa tersebut diberikan serangkaian tugas yang mengukur kemampuan mereka pada aspek motorik, persepsi dan bahasa. Para guru yang mengajar para siswa tersebut pun diminta memberikan penilaian mengenai tingkat penguasaan siswa-siswa yang terlibat dalam penelitian ini terhadap keterampilan pra akademik membaca, menulis, dan berhitung. Penilaian guru digunakan sebagai instrumen untuk mengukur risiko kesulitan belajar karena dari beberapa hasil penelitian diketahui bahwa penilaian guru di tingkat taman kanak-kanak dapat meramalkan keberhasilan belajar di tahun-tahun pertama sekolah dasar (Mercer, 1997; Taylor dick,2000) .

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya kontribusi bersama antara aspek, motorik, persepsi dan bahasa terhadap risiko kesulitan belajar. Kontribusi yang terbesar adalah dari aspek persepsi terhadap risiko kesulitan belajar. Beberapa hasil tambahan juga diperoleh dari hasil penelitian ini. Saran yang diperoleh dari penelitian ini menyebutkan perlunya dilakukan penelitian longitudinal lanjutan untuk memantau perkembangan siswa di tingkat sekolah dasar. Mengingat instrumen yang digunakan dalam penelitian ini merupakan pengembangan instrumen baru maka perlu dilakukan pembakuan instrumen. Saran praktis bagi guru dan orangtua juga diberikan guna meminimalkan risiko kesulitan belajar, maupun memberikan stimulasi yang berkaitan dengan pengembangan aspek motorik, persepsi, dan bahasa.

CLASSIFICATION

Membuat klasifikasi anak berkesulitan belajar tidak mudah karena kesulitan belajar merupakan kelompok kesulitan yang heterogen. Tidak seperti tunanetra, tuinarungu, tunagrahita, yang bersifat homogen, kesulitan belajar memiliki banyak tife yang masing-masing memerlukan diagnosis dan remediasi yang berbeda-beda. Betapapun sulitnya membuat klasifikasi kesulitan belajar, tampaknya memang diperlukan karena bermanfaat untuk menentukan strategi pembelajaran yang tepat.

Secara garis besar kesulitan belajar diklasifikasikan kedalam dua kelompok, yaitu:

  1. 1. Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan ( developmental learning disabilities ). Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan mencangkup gangguan motorik dan persepsi, kesulitan belajar bahaa dan komunikasi, dan kesulitan belajar dalam penyesuaian perilaku sosial. Kesulitan belajar yang bersifat perkembangan umumnya sukar untuk diketahui oleh orang tua maupun guru karena tidak ada pengukuran sistematik seperti halnya dalam bidang akademik . Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan sering tampak sebagai kesulitan belajar yang disebabkan oleh tidak dikuasainya keterampilan prasyarat ( prerequisite skills ), yaitu keterampilan yang harus dikuasai lebih dahulu agar dapat menguasai bentuk keterampilan berikutnya. Meskipun beberapa kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan sering berkaitan dengan kagagalan dalam pencapaian prestasi akademik, hubungan antara keduanya tidak selalu jelas. Ada anak gagal dalam belaja membaca menunjukan ketidakmampuan dalam fungsi-fungsi perseptual motor, tetapi ada, pula yang dapat bel;ajar membaca meskipun memiliki ketidakmampuan dalam fungsi-fungsi perseptual motor.
  2. Kesulitan belajar akademik ( academic learning disabilities ). Kesulitan melajar akademik menunjukan pada adanya kegagalan-kegagalan pencapaian prestasi akademik yang sesuai dengan kapasitas yang diharapkan. Kegagalan tersebut mencangkup penguasaan keterampilan dalam membaca, menulis dan / atau matematika. Kesulitan belajar akademik dapat diketahui oleh guru atau orang tua ketika ank gagal memampilkan salahsatu atau beberapa kemampuan akademik. Untuk mencapai prestasi akademik yang memuaskan seorang anak memerlukan penguasaan keterampilan pra syarat. Anak yang memperoleh prestasi belajar yang rendah karena kurang menguasai keterampilan prasyarat, umumnya dapat mencapai prestasi tersebut. Untuk dapat menyelesaikan soal matematika bentuk cerita misalnya, seorang anak harus menguasai terlebih dahulu keterampilan membaca pemahaman. Untuk dapat membaca, seorang anak harus sudah berkembang kemampuannya dalam melakukan diskriminasi visual maupun auditif, ingatan visual maupun auditoris dan kemampuan untuk memusatkan perhatian.

Salah satu kemampuan dasar yang umumnya dipandang paling penting dalam kegiatan belajar adalah kemampuan untuk memusatkan perhatian atau yang sering disebut perhatian selektif. Perhatian selektif adalah kemampuan untuk memilih salah satu diantara sejumlah rangsangan seperti rangsangan auditif, taktil, visual, dan kinestetk yang mengenai manusia setiap saat. Seperti dijelaskan oleh Ross ( 1976 : 60 ), perhatian selektif ( selective attention ) membantu manusia membatasi jumlah rangsangan yang perlu diproses pada suatu waktu tertentu. Jika seorang anak memperhatikan dan bereaksi terhadap rangsangan, maka anak semacam itu dipandang sebagai anak yang terganggu perhatiannya ( distractible ). Menurut Ross, kesulitan belajar banyak disebabkan oleh adanya gangguan perkembangan dari penggunan dan mempertahankan perhatian selektif.

1) Minimal Brain Dysfunction

Minimal brain Dysfunction adalah ketidakberfungsian minimal otak digunakan untuk merujuk suatu kondisi gangguan syaraf minimal pada murid ketidakberfungsian ini bisa termanifestasi dalam berbagai kombinasi kesulitan seperti konseptualisasi, bahasa, memori, pengendalian , perhatian, impulse(dorongan), atau fungsi motorik.

2) Aphasia

Aphasia merujuk suatu kepada suatu kondisi dimana anak gagal menguasi ucapan-ucapan bahasa yang bermakna pada usia sekitar 3,0 tahun. Ketidakcakapan bicara ini tidak dapat dijelaskan karena factor ketulia, keterbelakangan mental, ganngguan organ bicara,tau factor lingkungan

Simptom aphasia digolongkan kedalam tiga karakteristik utama yakni:

a Receptive aphasia

− Tidak dapat mengeidentifikasi apa yang didengar

− Tidak mendapat melacak arah

− Kemiskinan kosa kata

− Tidak dapat memahami apa yang terjadi dalam gambar.

− Tidak dapat memahami apa yang dia baca.

b Expressive aphasia

− Jarang bicara di kelas

− Kesulitan dalam melakukan peniruan.

− Banyak pembicaraan yang tidak sejalan dengan ide.

− Jarang menampilkan gesture (geramk tangan )

− Ketidakcakapan menggambar dan menulis.

c Inner aphasia

− Tidak mampu melakukan asosiasi, oleh karena itu sulit berfikir abstrak

− Memberikan respon yang tak layak atas panggilan/sahutan

− Lamban merespon

3) Dyslexsia

Dylexia, ketidakcakapan membaca. Adalah jenis lain gangguan belajar. Yakni anak-anak berkecerdasan normal yang mengalami kesulitan berkompitisi dengan temannya di sekolah .

Simptom umum dylesia :

− Kelamahan orientasi kanan –kiri

− Kecendurungan membaca kata bergerak maju mundur. Seperti “dia”

dibaca“aid”.

− Kelemahan keterampilan jari.

− Kesulitan dalam berhitung

− Kelmahan memori.

− Kesulitan auditif.

− Kelemahan memori visual.

− Dalam membaca keras tidak mampu mengkonverisikan symbol visual

ke dalam simbol auditif sejalan dengan bunyi secara benar.

4) Kelemahan Perseptual dan perseptual-motorik

Kelemahan preseptual dan preseptual-motorik sebenarnya merujuk kepadsa masalah yang sama, persepsi dapat diidentifikasi tanpa mengaitkan dengan aspek motorik. Persepsi itu sendiri membedakan stimulus sensoris, yang pada gilirnnya harus diorganisasikan ke dalam pola-pola yang bermakna.

Ada beberapa hal yang dinilai sebagai permasalahan dalam proses pembelajaran pada anak yang biasanya dikenal dengan istilah kesulitan belajar. Identifikasi kesulitan belajar dapat dilakukan berdasarkan gejala-gejala yang nampak seperti:

(1) gejala fisik

(2) gejala perilaku

(3) gejala hasil belajar (Depdikbud 1997).

Menurut Paket Penanganan Siswa Berkesulitan Belajar (Depdikbud,1997), ada 11 identifikasi kelompok kesulitan belajar yang seringkali ditemui pada usia anak sekolah dasar yaitu :

1. Anak berkesulitan belajar menulis (disgrafia)

2. Anak berkesulitan belajar membaca (disleksia)

3. Anak berkesulitan belajar berhitung (diskalkulia)

4. Anak berprestasi di bawah potensinya (underachiever)

5. Anak berprestasi belajar rendah

6. Anak dengan gangguan emosi dan perilaku

7. Anak dengan gangguan komunikasi

8. Anak dengan gangguan kesehatan dan gizi

9. Anak degan gangguan gerakan dan anggota tubuh

10. Anak dengan gangguan penglihatan

11. Anak dengan gangguan pendengaran

E. Kronologis Penyebab Terjadinya Learning Disability

Beberapa penyebab terjadinya Learning Disability :

  • Karena masukan rangsang terjadi tidak sendiri
  • Informasi datang sekaligus dari berbagai sumber ( panca indera )
  • Semua berakumulasi seiring waktu
  • Data bergabung dengan data sensorik sebelumnya
  • Emosi
  • Minimal Brain Disability

Prestasi belajar yang dipengaruhi oleh dua faktor, internal dan eksternal. Penyebab utama kesulitan belajar ( learning disabilitis ) adalah faktor internal, yaitu kemungkinan adanya disfungsi neurologis; sedangkan penyebab utama problema belajar ( learning problems ) adalah faktor eksternal yaitu antara lain berupa stategi pembelajaran yang keliru, pengolahan kegiatan belar yang tidak membangkitkan motifasi belajar anak dan pemberian ulangan penguatan ( reinforcment ) yang tidak tepat.

Disfungsi neurologis sering tidak hanya menyebabkan kesulitan belajar tetapi juga dapa menyebabkan tunagrahita dan gangguan emosional. Berbagai faktor yang dapat menyebabkan disfungsi neurologis yang pada gilirannya dapat menyebabkan kesulitan belajar, antaralain adalah:

  1. Faktor genetik
  2. Luka pada otak karena trauma fisik atau karena kekurangan oksigen
  3. Biokimia yang hilang ( misalnya biokimia yang diperlukan untuk memfungsikan syaraf pusat )
  4. Biokimia yang dapat merusak otak ( misalnya zat pewarna pada makanan dapat menyebabkan kesulitan belajar )
  5. Pencemaran lingkunan ( misalnya pencemaran timah hitam )
  6. Gizi yang tidak memadai
  7. Pengaruh-pengaruh psikologis dan sosial yang merugikan perkembangan anak ( defrivasi ).

Dari berbagai penyebab tersebut dapat menimbulkan gangguan dari tarafnya yang ringan hingga yang tarafnya berat.

Bagi kelompok anak LD yang memiliki inteligensi di atas rata-rata, paduan antara sebab-sebab khusus yang dialami, yaitu disfungsi minimal dalam sistem syaraf pusat di otak, dan keunggulan potensi yang dimilikinya diduga kuat akan memunculkan karakteristik tersendiri yang berbeda dengan kelompok anak LD yang lain maupun berkesulitan belajar pada umumnya

Kelompok anak LD dicirikan dengan adanya gangguan-gangguan tertentu yang menyertainya. Menurut Cruickshank (1980) gangguan-gangguan tersebut adalah gangguan latar-figure, visual-motor, visual-perceptual, pendengaran, intersensory, berpikir konseptual dan abstrak, bahasa, sosio-emosional, body image, dan konsep diri. Sedangkan menurut Hammil dan Myers (1975) meliputi gangguan aktivitas motorik, persepsi, perhatian, emosionalitas, simbolisasi, dan ingatan. Sedangkan ditinjau dari aspek akademik, kebanyakan anak LD juga mengalami kegagalan yang nyata dalam penguasaan keterampilan dasar belajar, seperti dalam membaca, menulis dan atau berhitung.

LD dapat dialami oleh siapa saja, mulai dari yang terbelakang mental, rata-rata, sampai yang berinteligensi tinggi. Sejarah membuktikan bahwa tokoh-tokoh kaliber dunia seperti Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Leonardo da Vinci, Winston Churcill, dan Nelson Rockefeller, awalnya juga dikenal sebagai penyandang LD (Osmon, 1979; Mulyono Abdurrahman, 1994). Secara teoretis prevalensi penyandang LD berkisar antara 3-10 persen dari populasi anak usia sekolah (Schwartz, 1984; Hallahan, 1985).

Faktor domain yang melatar belakang :

1. Faktor dominan yang melatarbelakangi

Ditinjau dari aspek neurologis ada kecenderungan bahwa kesulitan belajar yang dialami oleh kasus dilatarbelakangi oleh aspek motorik, baik kasar maupun halus. Hal ini terbukti bahwa seluruh kasus mengalami problem dalam vestibulo proprioseption. Vestibulo propioseption berkaitan dengan aspek motorik kasar, terutama kemampuan keseimbangan badan atau vertikalisasi tubuh, sehingga memiliki batas toleransi minimal menjaga tubuhnya untuk tetap seimbang atau vertikal. Gejala yang sering ditampakkan pada penderita ini, tidak mampu berjalan pada garis lurus, tidak mampu berjalan pada papan keseimbangan, tidak mampu meloncat secara simetris, sering menabrak benda di depan atau sampingnya, tidak bisa diam, tidak mampu bertahan lama untuk duduk tegak atau berdiri, dan dalam melakukan aktivitas tertentu merasa lebih nyaman bila badan bertumpu pada suatu benda.

Masalah neurologis lain yang berkaitan dengan kemampuan motorik kasar adalah kemiskinan dalam persepsi tubuh dan kemiskinan dalam integrasi bilateral. Kemiskinan tersebut, cenderung mengakibatkan seseorang mengalami gangguan dalam persepsi ruang dan bergerak secara luwes. Misalnya kesulitan dalam memahami kanan-kiri, atas bawah, maju-mundur, dsb. Hal ini secara tidak langsung berakibat pada kekurangmampuan anak dalam diskriminasi huruf.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa ketiga kasus mengalami masalah neurologis yang berkaitan dengan keterampilan motorik halus (fine motorik), seperti dyspraxia, tremor, sensory inetegrasi, dan problem refleks babynsky. Keterampilan motorik halus sangat diperlukan dalam keterampilan menulis. Hal ini terbukti bahwa ketiga kasus mengalami kegagalan dalam menulis secara akurat. Gangguan dalam aspek motorik, terutama yang disebabkan oleh problem dalam vestibulo proprioseption secara langsung atau tidak langsung dapat berakibat pada munculnya gangguan konsentrasi pada anak.

Dari data psikologis di atas juga terbukti bahwa kesulitan belajar yang dialami kasus juga bermuara pada adanya masalah atau gangguan dalam proses psikologis dasar, yaitu persepsi visual motor dan kurangnya konsentrasi. Gangguan dalam persepsi visual motor atau koordinasi mata tangan, dapat mengandung tiga makna sekaligus.

Pertama, mengindikasikan adanya gangguan dalam persepsi visual sehingga tidak mampu mengidentifikasi, membedakan, dan menginterpretasikan obyek secara akurat. Kedua, mengindikasikan adanya gangguan dalam aspek motorik halus, yaitu yang berkaitan dengan pengendalian dan keluwesan pergelangan tangan dan jari-jari tangan seperti yang dibutuhkan dalam menulis. Ketiga, gangguan dalam keduanya, yaitu dalam persepsi dan motorik sekaligus. Data psikologis juga menunjukkan bahwa kesulitan belajar yang dihadapi kasus, juga dilatarbelakangi oleh kurangnya konsentrasi atau gangguan konsentrasi.

Hal di atas menunjukkan bahwa faktor dominan yang melatarbelakangi kasus adalah gangguan dalam proses psikologis dasar dan motorik. Gangguan mana yang primer dan mana yang sekunder tampaknya sulit untuk dijawab secara tegas, tergantung pada masing-masing kasus dan gejala-gejala yang ditampilkan. Yang perlu ditegaskan adalah bahwa: Pertama, gangguan dalam motorik halus secara langsung dapat berakibat pada kegagalan dalam menulis secara akurat. Kedua, gangguan dalam motorik kasar seperti pada gangguan vestibulo proprioseption, body perception, dan atau integrasi bilateral secara tidak langsung dapat berakibat pada munculnya gangguan konsentrasi dan persepsi, yang pada akhirnya dapat berdampak pada kegagalan dalam membaca, menulis, dan atau berhitung secara akurat. Ketiga, gangguan persepsi secara langsung dapat berakibat pada kegagalan-kegagalan dalam penguasaan atau belajar akademik, serta munculnya gangguan konsentrasi. Keempat, gangguan konsentrasi secara langsung atau tidak langsung dapat berakibat pada munculnya gangguan persepsi, serta kegagalan dalam penguasaan belajar akademik. Kelima, gangguan konsentrasi, persepsi, dan motorik merupakan gangguan yang dapat berdiri sendiri-sendiri, atau muncul sebagai rangkaian sebab akibat.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan anak, yaitu faktor internal (dari dalam diri anak itu sendiri) dan faktor eksternal (faktor luar). Faktor internal tentunya sangat tergantung pada perkembangan fungsi otaknya, yang terjadi sejak ia masih berada di dalam kandungan ibu, oleh karenanya faktor gizi ibu dan anak sangatlah penting untuk diperhatikan.

Selain hal tersebut di atas ada faktor lain pada diri anak itu sendiri yang dapat mempengaruhi kecerdasannya, yaitu faktor emosi dan perilaku dari anak tersebut. Dalam kondisi emosi dan perilaku yang terganggu tentunya anak tidak dapat tumbuh kembang dengan optimal. Ia akan mengalami berbagai macam hambatan dalam tumbuh kembangnya, seperti gangguan perkembangan fisik, gangguan dalam bidang akademis, dalam interaksi sosial dengan lingkungannya dan sebagainya.

Selain hal itu faktor eksternal juga sangat penting untuk diperhatikan, karena rnempunyai dampak yang cukup besar pada turnbuh kembang anak bila faktor ini mengalami masalah.

Kondisi-kondisi seperti ini apabila tidak dideteksi sedini mungkin dan mendapatkan pertolongan secepatnya, dapat mengakibatkan perkembangan anak terganggu, termasuk kecerdasannya. Diharapkan dengan intervensi dini anak akan tumbuh kembang dengan optimal sesuai dengan kemampuannya.

Perkembangan Otak (1,2)

Perkembangan otak manusia terjadi sejak di dalam kandungan, masa pra-natal, masa pasca-natal, masa dewasa dan usia lanjut. Pada rnasa awal periode perkembangan (pada usia 2-4 bulan, saat bayi mulai menyadari akan lingkungan sekitamya dengan puncak pada usia 8 bulan) terjadi pertumbuhan sel-sel otak yang sangat cepat. Bahkan pada anak usia 2 tahun, jumlah jaringan saraf dan metabolisme di otak dua kali orang dewasa dan hal ini menetap sampai usia 10-11 tahun.

Karena itulah otak yang sedang berkembang mempunyai kemampuan yang sangat besar untuk memperbaiki diri (plastisitas otak) dan menemukan jalan untuk mengadakan kompensasi. Masa ini kita sering sebut dengan istilah Golden age/usia emas.

Pada menjelang masa remaja (sekitar 18 tahun) plastisitas otak makin berkurang, namun kekuatannya makin meningkat, sehingga segala talenta yang telah ada sebelumnya kini slap dipraktekkan.

Faktor genetik (nature) dan lingkungan (nurture) sering saling mempengaruhi. Potensi yang ada pada seorang anak merupakan modal dasar, namun apakah hal ini kelak akan dipergunakan secara positif atau negatif sangatlah tergantung dari stimulasi yang diperoleh atau pengaruh lingkungannya.

Pada masa dewasa, meskipun tidak dapat dibentuk sel-sel otak baru pada susunan sarafnya, namun setiap sel saraf mampu untuk mengadakan cabang dan hubungan antar sel saraf yang baru guna mengkompensasi sel-sel yang rusak.

Berbagai penyebab yang dapat mempengaruhi perkembangan otak:

Pada masa prenatal:

Kelainan kromosom dan genetic yang banyak dijumpai ialah sindroma down

akibat trisomi 21.

Infeksi intra-uterine: rubella, toxoplasmosis, syphilis, herpes, cytomegalo virus, varicella, encefalitis virus dan lain-lain. Obat-obatan yang bersifat teratogenik yang diminum ibu hamil, misal antibiotik (tetrasiklin), phenytoin, progesteron-estrogen, lithium. Stres maternal yaitu hormon yang berhubungan dengan stres, seperti kortikosteroid, akan masuk ke dalam janin melalui plasenta ibu dan dapat mempengaruhi sistem kardiavaskuler janin. Pada wanita dengan tingkat kecemasan yang tinggi sering mempunyai bayi yang hiperaktif dan iritabel, mempunyai gangguan tidur dan berat badan lahir rendah serta pola makan yang buruk. Kondisi ibu dengan diabetes, gangguan endokrin, kekurangan nutrisi, kelaparan, ketergantungan zat dan obat. Pemakaian alkohol pada ibu hamil dapat terjadi Sindroma fetal alkohol, terdapat hambatan pertumbuhan (berat badan, panjang badan), pelbagai anornali (bola mata yang kecil, garis tangan yang pendek dan sebagainya), mikrosefali, riwayat perkembangan yang terlambat, hiperaktif, gangguan pemusatan perhatian, kesulitan belajar, kejang, defisit intelektual. Merokok saat hamil dapat mempengaruhi berat badan lahir bayi

Kondisi seperti di atas dapat menimbulkan berbagai kelainan otak antara lain:

– Anensefali (tulang kepala tidak terbentuk, terjadi sebelum umur janin 24

hari)

-Mikrosefali (keadaan dengan ukuran lingkar kepala lebih kecil dari

ukuran baku)

-Megalensefali (merupakan pembesaran jaringan otak).

Pada masa pascanatal:

· Proses kelahiran yang lama dan sulit, dapat menimbulkan kekurangan zat oksigen di otak, yang berdampak pada kelainan saraf seperti serebral palsi, retardasi mental, gangguan inteligensi, epilepsi dan gangguan perilaku.

· Infeksi yang menyerang susunan saraf pusat dapat disebabkan oleh kuman atau virus. Infeksi virus ini menyebabkan radang dari jaringan otak atau ensefalitis, merupakan penyebab terbanyak dari keterlarnbatan perkembangan mental maupun kemunduran taraf perkembangan yang telah dicapai. Infeksi kuman yang menyebabkan radang selaput otak atau meningitis yang terbanyak adalah karena kuman tuberkulosis. Secara klinis ditemukan kelumpuhan anggota gerak, gangguan kesadaran, maupun gangguan perkembangan mental/ernosi. Penyakit kronik, apalagi bila dirawat di rumah sakit, akan menimbulkan kegelisahan pada anak dan juga pada orang tuanya. Sering mereka mengalami reaksi stres atau gangguan penyesuaian, akibat terhentinya sekolah dan anak kurang mendapat stimulasi selama sakit.

· Penyakit konvulsif seperti epilepsi, terutama bila sering kejang dapat menyebabkan kelainan neurologik dan gangguan perkembangan mental/emosi. Setiap serangan kejang dapat menimbulkan gangguan metabolisme dan fungsi dari sel saraf dan menyebabkan kerusakan sel itu sendiri. Semakin sering dan lama anak menderita kejang, semakin banyak gangguan yang terjadi pada susunan saraf pusat. Anak juga sering mengalami stres dan gangguan psikososial, perasaan malu dan rendah diri. Makin muda usia waktu timbulnya epilepsi, makin banyak ditemukan retardasi mental.

· Gangguan gizi pada anak dapat mempengaruhi perkembangan baik fisik maupun mentalnya. Anak yang menderita gangguan gizi berat memperlihatkan tanda-tanda apati, kurang menunjukkan perhatian terhadap sekitar, dan lambat bereaksi terhadap suatu rangsangan. Umumnya anak yang menderita gangguan gizi membutuhkan lebih banyak waktu untuk belajar dibandingkan anak normal. Juga anak-anak ini lebih mudah mendapat infeksi sekunder yang akut maupun kronik, anemia clan sebagainya. Gangguan gizi berat dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan jaringan otak, ditunjukkan dengan berkurangnya ukuran lingkar kepala.

· Anemia kekurangan zat besi yang biasanya kronik dapat pula menyebabkan gangguan perkembangan baik fisik maupun mental.

Berbagai kondisi yan dapat menimbulkan kesulitan belajar dan gangguan emosi/perilaku pada anak:

1) Akibat penempatan anak yang tidak sesuai dengan taraf kemampuannya

a) Kondisi ini dapat terjadi pada anak dengan taraf kecerdasan di bawah rata-rata atau yang disebut retardasi mental, yaitu gangguan yang mempunyai gambaran utama:

i) Fungsi intelektual umum di bawah rata-rata yang cukup bermakna

ii) Perilaku adaptif terganggu

iii) Timbul sebelum usia 18 tahun

Anak-anak ini lambat dalam perkembangan mentalnya, sehingga kemampuannya untuk belajar juga terbatas dibandingkan dengan anakanak seusianya. Sering terjadi anak ditempatkan di kelas/sekolah yang tidak sesuai dengan taraf kemampuannya yang terbatas itu. Orang tua yang belum dapat menerima kondisi anaknya yang demikian ini, cenderung masih enyangkal dan menutupi kenyataan yang ada dengan melemparkan kesalahan pada orang lain atau bahkan semakin menuntut anak itu dengan memberinya berbagai macam les setiap hari. Anak seakan-akan hidup hanya untuk belajar, walau demikian ia selalu gagal dan sering dimarahi, diejek, dibandingkan dengan anak lain. Akibatnya la semakin malas untuk berusaha dan belajar terus. Rasa benci dan marah timbul dalam dirinya, balk terhadap teman, guru dan orang tuanya. Perasaan emosinya itu lalu diekspresikan dalam bentuk tingkah laku yang mengganggu. Hal ini semakin membuat lingkungan tidak menyukainya dan terjadilah kondisi yang semakin merugikan perkembangan anak itu. Bakat-bakat yang lain yang potensial ia miliki juga menjadi terhambat perkembangannya.

b). Kondisi anak dengan taraf kecerdasan yang superior, sering mengalami kesulitan belajar dalam situasi pendidikan bagi anak rata-rata.

Diperlukan waktu yang lebih singkat untuk mengerjakan tugas-tugasnya di sekolah, sisa waktu ia pakai untuk mengganggu teman atau asyik melamun sendiri. Hal ini lama kelamaan menjadi lebih menarik dibanding pelajarannya. Akhirnya anak ketinggalan dan mengalami kesukaran dalam mengikuti pelajaran. Prestasi akademiknya akan menjadi buruk, dalam kondisi demikian baik guru maupun orang tua akan mempunyai kesan yang negatif terhadap anak ini. Demikian pula anak, ia akan semakin bereaksi negatif terhadap proses belajar. Akibat selanjutnya adalah anak jadi semakin malas belajar, menghindar untuk belajar dan ada kemungkinan tidak naik kelas. Untuk mengatasi kedua masalah di atas adalah menempatkan anak pada tempat yang sesuai dengan kemampuannya, serta sikap orang tua dan guru harus disesuaikan dengan kondisi anak.

2) Gangguan yang terjadi akibat belum tercapainya kesiapan belajar (learning readiness). Kemampuan untuk belajar menulis, membaca dan berhitung berkembang bersama dengan proses pematangan kepribadian dan kecerdasan secara keseluruhan. Kesulitan belajar sering terjadi karena anak tidak/belum memiliki taraf kematangan yang diperlukan untuk siap belajar.

Hal ini dapat disebabkan :

a) anak memang belum mencapainya, karena masih terlalu kecil muda.

b) anak gagal mencapainya karena kelainan dalam dirinya atau karena

pengaruh lingkungannya.

Anak yang terlalu kecil, masih belum mampu untuk menerima pelajaran seperti di sekolah. Ia tidak dapat duduk tenang terlalu lama dan melaksanakan tugas yang diberikan dengan tuntas dan sempurna. Melalui proses perkembangan yang wajar, anak akan sampai pada batas kemampuan tersebut. Ada anak yang lebih cepat sampai pada taraf siap belajar, ada yang lebih lambat. Batas usia berkisar antara 41Q tahun, dengan rata-rata usia 6-7 tahun. Bila pelajaran dipaksa diberikan pada anak-anak yang belum siap, rnereka akan mengalami hal yang kurang menyenangkan berkenaan dengan belajar. Lebih lagi apabila suasana belajarnya itu menegangkan dan menakutkan. Kelak bila kesiapan belajarnya itu muncul, anak secara emosional sudah terlanjur mempunyai kesan yang kurang menyenangkan terhadap belajar, anak akan berusaha mengelak dari hal-hal yang berhubungan dengan belajar. Untuk mencegah hal ini, jangan mengajar anak dengan paksa, anak bukan objek melainkan subjek dalam proses belajar, pelajaran/metode yang diberikan adalah untuk anak, bukan anak untuk pelajaran/metode, jangan hanya mengejar target prestasi sekolah tapi pikirkanlah target prestasi yang mampu dicapai si anak.

3) Gangguan yang timbul akibat pembiasaan yang kurang menyenangkan yang berhubungan dengan proses belajar. Anak mau belajar karena sayang dan senang, ini merupakan prinsip yang penting dalam pendidikan seorang anak.

Cara mengajar anak pada umumnya dapat menggunakan dua macam cara :
a) dengan cara memberi hadiah (rewards), yaitu usaha belajar anak diarahkan untuk memperoleh sesuatu yang menyenangkan bila la mau belajar atau mencapai prestasi tertentu.

b) dengan cara memberi hukuman (punishment) bila la tidak mau belajar, yaitu usaha belajar anak diarahkan untuk menghindar dari sesuatu yang tidak menyenangkan:
Ternyata cara a) cenderung dipertahankan lebih lama oleh anak, karena usaha belajar itu diasosiasikan dengan hal yang menyenangkan. Sebaliknya cara b) cenderung menimbulkan asosiasi yang negatif terhadap proses belajar, karena anak akan melihat guru/orang tua sebagai figur yang tidak menyenangkan. Kondisi ini bila dibiarkan akan dapat berakibat buruk, karena kesan ini akan menempel terus pada anak. Berbagai masalah emosi dan perilaku dapat muncul sebagai akibatnya, cemas, depresi, fobia sekolah dsb. Prestasi betajarnya tidak akan pernah baik, sehingga dapat menimbulkan kesan kecerdasannya lebih rendah dari yang sebenarnya. Diperlukan intervensi dini dengan dibimbing oleh guru yang berpengalaman dan dalam suasana yang menyenangkan, untuk mengubah persepsinya tentang belajar. Perlu penanganan terpadu bila telah timbul gangguan emosi dan perilaku.

4) Gangguan dalam hubungan anak dengan orang yang bermakna.
Proses beiajar merupakan proses pengolahan aktif dalam diri anak, dan terjadi daiam konteks hubungan antar manusia. Kemauan untuk belajar, yaitu untuk memperoleh ketrampilan dan kepandaian tertentu, timbul karena berbagai motif.
Salah satu adalah kebutuhan untuk identifikasi, baik dengan orang dewasa maupun dengan teman sebaya. Mekanisme psikik ini perlu diperhatikan. Di sini letak pentingnya peranan pribadi guru sebagai figur identifikasi utama di sekolah. Khususnya guru-guru kelas bermain, taman kanak-kanak dan kelas-kelas pertama sekolah dasar, merupakan figux utama yang mencerminkan `orang luar numah’, dan perantara utama yang membantu dan membimbing anak memasuki `dunia luar rumah’. Hendaknya mereka itu memiliki sifat-sifat pelindung dan pembimbing, orang tua yang bijak, dan bukan sebagai oxang yang ditakuti, menuntut dan menghukum. Hubungan guru-murid harus diwarnai oleh rasa sayang dan kagum, sehingga anak mau mendengar dan mengerjakan apa yang ditugaskan guru. Ia ingin jadi seperti guru.

Pentingnya peranan teman-teman dalam proses identifikasi merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam pergaulan. Anak seringkali ingin melakukan apa yang dilakukan oleh teman sebayanya. Motif untuk bersaing antar ternan, dapat meningkatkan atau menghambat gairah belajar.

Hubungan yang kurang menyenangkan antara anak dengan orang tuanya, dapat menimbulkan permasalahan dalam proses belajar. Situasi keluarga yang kurang harrnonis, yang tidak menciptakan suasana belajar dalam rumah, juga orang tua yang terlalu ambisius dan terlalu mementingkan pelajaran sekolah, akan membuat gairah belajar anak menurun, anak akan jenuh dan kondisi ini sering menjadi arena `pertempuran’ antara anak dan orang tua. Rasa kecewa dan marah terhadap orang tuanya, diekspresikan anak melalui belajar. Menurunnya prestasi belajar secara sadar atau tidak, digunakannya untuk mengecewakan orang tua. Intervensi utama pada kasus seperti ini adalah memperbaiki hubungan orang tua-anak, melalui terapi individual untuk anak dan terapi keluarga untuk semua anggota keluarga yang terlibat dengan anak, disamping terapi remedial yang intensif.

5) Konflik-konflik intrapsikik yang dapat menghambat proses belajar dapat berupa gangguan cemas masa kanak atau remaja, gangguan depresi pada anak dan remaja. Untuk dapat belajar dengan balk, individu harus mampu memusatkan perhatian dan mengarahkan energi mentalnya pada hal-hal yang akan dipelajarinya itu. Konflik mental yang biasanya dirasakan dalam bentuk berbagai perasaan cemas, rasa salah, rasa dosa, dsb. menyebabkan anak tidak mampu berkonsentrasi, daya pikir untuk belajar jadi menurun, karena sebagian besar energi mentalnya itu ditarik untuk menyelesaikan konfliknya tersebut. Diperlukan intervensi secepatnya untuk mengatasi hal ini, terutama dengan melakukan pendekatan individual.

6) Cara-cara pendidikan yang terlalu memanjakan anak dapat menimbulkan permasalahan pada emosi dan perilakunya. Anak-anak yang terlalu dilayani dan dimanja, cenderung tidak ulet dalam usaha mencapai sesuatu. Mereka cepat meninggalkan tugas yang sulit, dan lebih banyak menuntut pemuasan segera tanpa usaha yang sungguh-sungguh. Belajar baginya adalah sesuatu yang sangat membosankan, karena `tidak enak’, `harus mikir’, `capai’ dsb. Mereka cenderung mengandalkan orang lain dan kurang memiliki rasa tanggung jawab.(karimaberkarya.wordpress.com)

Comments on: "Be careful, one maybe YOU ARE LEARNING EXPERIENCE INTERFERENCE. IDENTIFICATION problem!" (3)

  1. wah…ini mata kuliah atau bacaan santai Charyl…? usahakan isinya singkat namun jelas…

    • semuanya bisa jadi bermanfaat kok sebenarnya!!

      pasti bisa lah.. semua kan berawal dari belajar, aku memang pada akhirnya akan terjun pada dunia anak berkebutuhan khusus. oi, sebenarnya sengaja pakai judul text inggris. target nya buat ke luar negri biar terkenal,, hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: